Mengapa Mewujudkan Goal Setting Itu Tidak Mudah

mewujudkan goal setting

Setiap orang mempunyai cita-cita. Sebagian dari mereka mewujudkannya dalam bentuk goal setting. Salah satu bentuk goal setting paling populer adalah resolusi tahun baru.

Setiap menjelang pergantian tahun kita bisa melihat betapa bersemangatnya orang-orang di sekeliling kita menyusun resolusi. Tetapi coba Anda lakukan observasi kecil-kecilan, saat sudah menginjak bulan Februari atau Maret berapa dari mereka yang masih bersemangat mengejar goal setting yang telah mereka susun.

Menyusun resolusi atau menetapkan goal setting memang mudah. Hampir setiap orang mampu melakukannya. Tetapi hanya sedikit yang mampu mengubah goal setting menjadi kenyataan.

Tulisan yang saya buat ini mencoba menguraikan mengapa meraih goal setting itu perlu perjuangan. Semoga tulisan yang saya rangkum dari beberapa sumber ini bisa membantu mewujudkan resolusi Anda.

GOAL & PROCESS (SISTEM)
Jika diibaratkan perahu dayung, maka kemudi perahu adalah goal setting Anda. Kemudi menentukan ke mana tujuan akhir, ke arah mana perahu Anda akan bergerak. Tanpa tujuan yang jelas, kapal akan berjalan tak tentu arah. Bahkan mungkin saja hanya berputar-putar di tempat yang sama.

Sementara, dayung adalah alat yang akan membawa perahu Anda bergerak menuju tujuan. Ibaratnya, dayung adalah sistem yang akan membawa Anda mencapai goal setting yang sudah ditentukan. Dayung adalah sistem yang terdiri atas hardware dan software yang membentuk satu proses yang terarah.

Banyak orang tidak menyadari, sekedar menetapkan goal setting tidaklah cukup. Ada konsekuensi-konsekuensi yang harus Anda terima jika menginginkan goal setting bisa terwujud. Semakin menantang goal setting yang Anda tetapkan, maka semakin besar pula konsekuensinya. Semakin besar energi atau effort yang harus Anda lakukan untuk sampai di tujuan.

Kemudi dan dayung, keduanya sama pentingnya. Begitu pula sistem dan goal setting, Keduanya harus ada untuk membawa Anda ke tujuan yang baru.

Untuk lebih memperjelas ilustrasi di atas, berikut saya berikan beberapa contoh tentang goal setting dan sistem untuk mencapainya :

Jika Anda seorang pengusaha, goal setting Anda adalah membesarkan usaha hingga mencapai omzet ratusan juta atau sekian miliar per bulan. Sistemnya adalah manajemen operasional atau manajemen produksi dan marketing.
Jika Anda seorang karyawan yang memiliki goal setting untuk menjadi manager, maka sistemnya adalah cara Anda dalam melaksanakan tugas kantor sehari-hari.

Jika Anda seorang manajer klub sepakbola dengan goal setting menjuarai kompetisi liga, maka sistemnya adalah cara Anda dalam mengelola klub termasuk bagaimana para pemain Anda berlatih setiap hari.

Dari sinilah kita bisa melihat mengapa membuat goal setting itu mudah, tetapi hanya sedikit yang mampu mewujudkan goal yang telah mereka tetapkan.

FOKUS, KUNCI SUKSES MENCAPAI GOALS

Membuat goal setting atau resolusi memang mudah, tetapi menyusun sistem untuk mencapainya itulah yang jauh lebih sulit.

Lalu di mana letak rahasia orang-orang yang mampu mewujudkan goal settingnya ? Kunci suksesnya ada pada fokus……. Ya, kunci suksesnya adalah kemampuan Anda untuk fokus pada goal yang sudah ditetapkan.

Di zaman yang serba berkelimpahan ini, fokus sepertinya menjadi hal yang langka. Informasi yang membanjir setiap hari telah membuat Anda sibuk meloncat dari pilihan satu ke pilihan lainnya. Sepertinya sulit sekali untuk mempertahankan fokus dan konsentrasi pada goals yang baru saja Anda tancapkan.

Sebagai gantinya, multitasking tampil menjadi mantra baru manusia modern. Multitasking adalah melakukan beberapa pekerjaan sekaligus pada saat bersamaan. Mengemudi sambil menerima telpon, menjawab e-mail sambil ber-whatsapp atau belajar sambil menonton televisi adalah beberapa contoh multitasking.

Seseorang yang sering bermultitasking, pada umumnya juga cenderung untuk bermulti goal-setting atau memiliki keinginan untuk meraih beberapa hal sekaligus pada saat bersamaan.

Kemajuan teknologi komunikasi telah menghadirkan revolusi kehidupan sehari-hari. Berbekal kemudahan berkomunikasi, kita merasa mampu mengerjakan lebih banyak hal atau meraih banyak keinginan pada saat yang sama.

Benarkah demikian ? Apakah multitasking lebih membantu Anda mewujudkan cita-cita atau goal setting dibanding single focus ? Beberapa hal berikut mungkin akan mengubah persepsi Anda.

Pernah memabaca cerita tentang percakapan antara Warren Buffet dengan staff pribadinya, Mike Flint ? Suatu saat Buffet dan Mike terlibat percakapan tentang apa saja yang ingin diraih Mike dalam karir professionalnya.

Maka Buffet pun meminta Mike untuk menuliskan 25 hal yang ingin diraihnya.

Kemudian Buffet meminta Mike untuk benar-benar mengevaluasi ke-25 goals tersebut, dan memilih 5 di antaranya yang dianggap sebagai the most important goals.

Buffet meminta Mike untuk membuat 2 daftar, A dan B. Daftar-A berisi 5 most important goals dan Daftar-B berisi 20 goals sisanya.

Maka Mike pun merasa dia sudah paham benar apa yang harus dilakukan saat mengatakan : “Saya akan fokus mengejar 5 goals yang paling penting, sementara 20 goals sisanya akan saya upayakan untuk mencapainya saat saya ada cukup waktu luang untuk mereka.”

Tetapi jawaban Buffet sungguh di luar perkiraan Mike : “Salah! Kamu harus fokuskan pikiran, waktu dan tenagamu hanya dan benar-benar hanya untuk 5 goalmu dari Daftar A saja. Hapus 20 goalmu dalam Daftar B dari pikiranmu. Buang mereka jauh-jauh. Mereka hanya akan mengganggu dan merintangimu untuk meraih cita-citamu yang sebenarnya.”

Oliver Emberton di dalam laman websitenya www.oliveremberton.com memberikan ilustrasi menarik tentang resiko kegagalan meraih goal setting akibat tidak fokusnya pikiran Anda.

Menurut Oliver, sistem kerja otak kita bisa diibaratkan dengan gerakan bola mainan yang di dalamnya kita masukkan beberapa ekor lebah.

Lebah-lebah tersebut menggambarkan impulse-impulse yang ada dalam otak. Semakin banyak keinginan, semakin banyak pula impulse yang muncul di dalam otak. Sama dengan keinginan yang lebih sering muncul secara acak, maka impulse-impulse yang ada di dalam otak pun juga tidak beraturan.

Impulse atau rangsangan yang tidak beraturan digambarkan dengan lebah yang terbang ke segala arah. Ke depan, belakang, atas, bawah, menyamping…… masing-masing lebah memiliki keinginannya tanpa ada koordinasi atau kesatuan komando.

Sekuat apapun lebah-lebah tersebut mengepakkan sayapnya, bola mainan hanya akan bergerak di tempat. Gaya-gaya atau energi yang dikeluarkan lebah bukannya saling memperkuat, tetapi justru saling meniadakan, karena arahnya yang tidak beraturan.

Seperti lebah-lebah yang terbang ke berbagai arah, itulah perumpamaan pikiran Anda yang tidak fokus.

Berbeda situasinya jika Anda hanya fokus pada satu atau dua goal saja. Lebah-lebah yang beterbangan tak tentu arah akan menyatu menjadi lebah raksasa yang mampu menggerakkan bola ke satu tujuan. Seperti itulah energi yang akan Anda miliki jika memfokuskan pikiran ke satu atau dua goal saja.

Jadi jika Anda memiliki banyak hal yang ingin Anda raih, buatlah daftar prioritas. Pilih dua, tiga goal paling penting yang akan memberikan pengaruh paling besar bagi Anda. Fokuskan pikiran dan energi untuk mereka. Lupakan goal-goal yang lain hingga Anda mampu mencapai goal prioritas Anda.